Senin, 01 Januari 2018

Taman Ulin Tenggarong

Taman ulin merupakan salah satu objek wisata yang ada di tenggarong kabupaten kutai kartanegara. Berada di Jln.Mawar Kel.Panji. Taman ulin diperkirakan memiliki luas dengan lebar sekitar 200m dan panjang sekitar 500m. Jarak tempuh dari jembatan kutai kartanegara ke taman ulin sekitar 6km dengan perkiraan waktu 15 menit.
 Taman ulin ini terbagi menjadi 2 bagian, bagian barat dan bagian timur, dibagian barat terdapat gazebo-gazebo yang biasanya digunakan pengunjung untuk beristirahat atau bersantai santai, disini juga pengunjung bisa makan dan minum sambil melihat keindahan yang ada di sekitar taman. Sedangkan di sebelah timur taman ulin disediakan taman bermain kanak-kanak.
Taman ulin juga biasanya sering di gunakan masyarakat untuk berolahraga dengan jogging mengelilingi taman setiap hari di sore hari atau akhir pekan. Taman ini juga sering di pakai event-event seperti perayaan, erau, pentas seni dll.

Kapal Wisata Kumala Tenggarong

Untuk dapat mengarungi sungai Mahakam, sejumlah pihak mengembangkan kapal wisata, dengan rute yang berbeda beda. Hingga saat ini terdapat tiga kapal wisata yang telah beroperasi, diantaranya kapal Pesut Mahakam, kapal Pesut Kita dan kapal Pesut Etam.
Simak keunggulan masing-masing kapal, serta tarif berwisata :
1. Kapal Pesut Mahakam
Kapal kayu dua tingkat ini telah beroperasi sejak 18 Maret 2017 silam. Kapal ini melayani rute perjalanan wisata ke pulau Kumala dan Kutai Lama, Kutai Kartanegara, dan rute Samarinda sendiri.
Kapal ini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas hiburan, seperti full musik, dan fasilitas pendukung lainya, yang membuat wisatawan nyaman.
2. Kapal Pesut Kita
Kapal ini juga terbuat dari bahan dasar kayu dan memiliki dua lantai. Kapal yang telah beroperasi sejak Januari 2017 ini telah melayani perjalanan wisatawan lokal hingga luar negeri.
Terdapat tiga rute perjalanan wisata, diantaranya Kutai Lama dan pulau Kumala, Kutai Kartanegara, serta kawasan Samarinda sendiri. Kapal ini standby mengangkut dan menurunkan penumpang di dermaga depan kantor gubernur Kaltim.
Kapal ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainya, yang memanjakan wisatawan. Selama perjalanan, wisatawan disugukan dengan musik, yang menyajikan lagu lagu khas Kaltim.
3. Kapal Pesut Etam
Kapal ini dibuat pada tahun 1985, dan dilakukan renovasi guna dapat digunakan sebagai kapal wisata. Kapal berjenis long boat dengan panjang 29 meter dan lebar 4,5 meter itu dapat menampung wisatawan mencapai 100 orang.
Tak hanya sebagai kapal angkut saja, namun kapal ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas, mulai dari karaoke, hingga restoran, dan juga dilengkapi dengan toilet. Selain fasilitas hiburan, pengelola juga melengkapi kapal dengan fasilitas keamanan, seperti tersedianya 130 pelampung, alat pemadam api, dan terdapat tujuh kru kapal yang telah berpengalaman.
Kapal ini resmi dioperasikan sebagai kapal wisata pada Juli tahun ini, yang dilaunching dengan melakukan perjalanan wisata ke Kutai Lama, Kutai Kartanegara.
Selain melayani rute perjalanan ke Kutai Lama dan pulau Kumala, kapal wisata ini juga melayani perjalanan ke lokasi lainya, seperti ke kampung Tenun, Samarinda Seberang, dan wisata ekologi pesut Mahakam. Dengan dermaga di Mahakam Ilir, pasar Pagi

Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong

Museum Kayu Tuah Himba terletak tidak jauh dari Kawasan Waduk Panji Sukarame, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yaitu berjarak sekitar 600 meter dari Waduk. Dibangun dengan bangunan kayu panggung yang berukuran 20 x 20 M². Yang melatar belakangi dibukanya objek wisata ini adalah karena adanya buaya yang telah diawetkan dalam Museum Kayu tersebut.
Di dalam Museum Kayu ini terdapat beragam jenis kayu-kayu yang ada di Pulau Kalimantan.
Koleksi dari Museum kayu ini, di antaranya adalah:
  • Kerajinan Kutai yang terbuat dari rotan, berupa lemari kursi, lampu, tempat tidur dll
  • Kerajinan Dayak, diantaranya adalah anjat, mandau, ukiran Dayak yang terbuat dari kayu ulin
  • Miniatur rumah khas Dayak
  • Jenis-jenis kayu di huatan daerah Kutai Kartanegara
  • Koleksi jenis kayu 200 buah
  • Koleksi jenis-jenis daun kayu yang dikeringkan 200 buah
  • Koleksi biji-bijian
  • Koleksi potongan log atau batangan pohon yang tumbuh di Hutan Kalimantan
  • Buaya Muara yang diawetkan (jantan dan betina)
  • Koleksi Kepiting pemakan sari kelapa
  • Dan lain-lain.

Waduk Panji Sukarame Tenggarong

Waduk Panji Sukarame adalah waduk yang juga dijadikan tempat rekreasi yang terletak di Kelurahan Panji Sukarame, Tenggarong, Kutai Kartanegara dan merupakan taman rekreasi yang sangat bagus untuk dinikmati dengan adanya pemandangan alam dan air waduk yang tenang. Luas lahan adalah ± 32 ha. Di sekeliling waduk banyak terdapat pondok-pondok untuk tempat beristirahat bagi para pengunjung. Di area waduk ada kafe atau warung untuk tempat makan dan minum serta panggung untuk tempat pertunjukan musik.

Jam Bentong Tenggarong

Jam bentong dalam bahasa Kutai berarti jam besar. Jam bentong merupakan ikon Kota Tenggarong yang dikelilingi taman yang rapi, bersebelahan dengan jembatan kebanggaan Kutai Kartanegara (Kukar). Jam bentong difungsikan sebagai Pusat Informasi Pariwisata di Kukar. Di dalamnya terdapat informasi tentang pariwisata Kukar, mulai informasi tertulis dalam bentuk booklet, brosur, kalender event, beragam banner objek wisata, video informasi wisata hingga replika situs yupa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara Sri Wahyuni mengatakan, replika jam bentong ditampilkan, dengan harapan menjadi daya tarik pengunjung, mendongkrak kunjungan wisatawan. 

Jembatan Repo-Repo Tenggarong

Jembatan Repo-Repo adalah jembatan khusus pejalan kaki yang membentang di atas Sungai Mahakam dan menghubungkan daratan kota Tenggarong dengan Pulau Kumala, Provinsi Klimantan Timur. Jembatan ini resmi dibuka oleh Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari pada tanggal 22 Maret 2016. Peresmian Jembatan Repo-Repo ditandai upacara tempong tawar oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Salehuddin II serta pengguntingan pita oleh Bupati Kukar.
Dalam Bahasa Kutai, "Repo-Repo" berarti gembok. Di jembatan ini, orang boleh memasang repo-repo atau gembok bertuliskan nama di pagar jembatan sebagai kenang-kenangan atau pun simbol cinta

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin

Di depan Pendopo Odah Etam dan di belakang Museum Mulawarman, terdapat bangunan masjid yang bersejarah, yaitu Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin. Masjid ini merupakan masjid tertua di kota Tenggarong dan dibangun pada tahun 1874.
Tidak seperti bangunan-bangunan masjid di Jawa, bangunan ini puncaknya berupa limas segi lima. Mirip-mirip dengan puncak masjid yang saya temui di wilayah Nusa Tenggara. Arsitekturnya bercorak rumah adat Kalimantan Timur dengan atap tumpang tiga. Konon sebelum direnovasi, masjid ini dibangun dengan tidak menggunakan paku satupun, selain kayu itu sendiri.

Ladang Budaya Tenggarong

Ladaya adalah salah satu destinasi wisata alam sekaligus pengunjung juga dapat menginap di rumah kayu dengan atap menjuntai dengan suasana alamnya. Ladaya (Ladang Budaya) di tempat ini juga terdapat aula dimana tempat pertunjukan seni yang sering digelar oleh seniman daerah.
Ladaya merupakan destinasi yang memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung, karena di objek wisata ini pengunjung bisa menikmati alam dan wahana menarik lainnya. Seperti kebun binatang mini, outbond, paint ball, dan juga Rumah Odah Rehat (rumah kayu atap menjuntai) untuk menginap.
Kebun binatang mini yang memajang berbagai jenis hewan khas Kalimantan Timur seperti burung merak, burung enggang, uwa-uwa, beruang madu, dan banyak lagi yang bisa dilihat.

Taman Tata Surya Tenggarong

Planetarium Jagad Raya yang berada di Kota Raja Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim), menyuguhkan wahana edukasi yang sangat menarik untuk dikunjungi. Selain memiliki ruang teater dan pemutaran film edukasi tiga demensi tanpa kaca mata, juga tersedia Taman Tata Surya dengan 8 (delapan) replika planet lengkap dengan susunan lintasan orbitnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sri Wahyuni ditemui wartakaltim.co belum lama ini menjelaskan sejarah pembangunan Planetarium Jagad Raya Tenggarong yang kala itu di resmikan Wakil Presiden RI Hamzah Haz bersamaan dengan peresmian beberapa infrastruktur lainnya di Kutai Kartanegara.

Mesjid Agung Sultan Sulaiman Tenggarong

adalah masjid terbesar di Tenggarong. Sekarang masjid ini masih dalam tahap modifikasi. Dan mungkin akan terus dimodifikasi. Letak yang sangat strategis, karena terletak di tengah kota dan bersebrangan dengan taman membuat masjid ini banyak menjadi pilihan warga Tenggarong untuk melaksanakan ibadahnya.

Dengan berbagai fasilitas yang disediakan, Masjid Agung Sultan Sulaiman ini sering dijadikan sebagai tempat acara acara penting, seperti tablik akbar sekota, ceramah dai kondang, sampai pelatihan haji.

Creative Park Tenggarong, Kalimantan Timur

Creative park, adalah sebuah taman yang terletak di kawasan Tenggarong Kutai Kartanegara. Bila berangkat dari bandara Balikpapan, anda dapat sampai di Tenggarong dengan menempuh perjalan kurang lebih 3,5 jam. Taman ini  baru saja diresmikan pada bulan Desember tahun 2014 yang lalu
oleh bupati Kutai Kartanegara, Ibu Rita Widyasari. Taman ini dibangun dengan menonjolkan sisi keratifitas dan keunikan. Setiap sorenya pun taman ini ramai dikunjungi para warga dan menjadi salah satu alternatif liburan keluarga.
Pada salah satu sisi taman di bagian sebelah kiri. Anda dapat melihat sebuah wall berwarna hijau
bertuliskan Creative Park dengan tambahan aksen mobil yang tertabrak masuk dalam wall lalu muncullah bagian depan mobil pada sisi wall yang lain. Sehingga mobil tersebut dapat dilihat pada dua sisi (depan dan bbelakang). Sungguh unik sekali bukan. Pada salah satu sisi wall, terdapat tulisan tak terlalu besar namun sangat menyemangati. “KERASLAH TERHADAP SEGALA BENTUK KEMALASAN, KBODOHAN DAN TIDAK BERBUAT APA-APA (Rita Widyasary)”

Air Terjun Kedang Ipil

Air terjun Kedang Ipil atau disebut juga Air Terjun Kendua terletak di Desa Kedang Ipil Kecamatan Kota Bangun. Lokasinya berada lebih kurang 72 km dari Kota Tenggarong dan 59 km dari ibukota Kecamatan Kota Bangun. Air terjun ini memiliki 3 tingkat dengan ketinggian mencapai 5 meter dan lebar lebih kurang 20 meter. Air terjun ini tidaklah tinggi namun jika dimusim hujan atau jika air pasang, maka dapat menjadi tempat arung jeram sejauh 10 Km. Di sekitar air terjun terhampar hutan yang masih alami dan mendukung keindahan panorama air terjun Kedang Ipil.
Dari Samarinda ke SP 6 Kota Bangun menggunakan Bus dengan tarif Rp. 21.000,- / orang. Sampai di simpang SP 6, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek dengan tarif Rp. 50.000,- / orang. Untuk menuju lokasi Air Terjun pengunjung berjalan kaki sejauh 1 Km. Dari Tenggarong ke SP 6 Kota Bangun menggunakan Bus dengan tarif Rp. 15.000,- / orang. Tiba di simpang SP 6, dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek dengan tarif Rp. 50.000,- / orang. Kemudian untuk menuju lokasi Air Terjun pengunjung berjalan kaki sejauh 1 Km untuk menuju Air Terjun tersebut. Dengan mobil rental, langsung tiba di tempat tujuan dan berjalan kaki sejauh 1 Km. Harga tarif mobil rental adalah Rp. 400.000,- / mobi

Museum Mulawarman Tenggarong

Museum Mulawarman adalah istana dari Kesultanan Kutai Kartanegara dibangun pada tahun 1963 sebagai pengganti Istana sebelumnya yang terbakar dan diresmikan pada tanggal 25 November 1971 oleh Gubernur Abdul Wahab Syahranie, lalu diserahterimakan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 18 Februari 1976
Kini telah dibangun Balai Kedaton sebagai tempat kediaman Sultan Aji Muhammad Salehuddin II yang telah dinobatkan kembali pada tahun 2002. Di dalam lingkungan Istana kesultanan terdapat pemakaman keluarga kerabat Kerajaan Kutai Kartanegara serta Masjid Jami' Aji Amir Hasanuddin sebagai saksi masuknya Islam di Kutai.
Di dalam Museum Mulawarman tersimpan benda-benda sejarah yang pernah digunakan oleh Kesultanan seperti Singgasana, Tempat Peraduan, Pakaian Kebesaran, Tombak, Keris, Meriam, Kalung dan Prasasti Yupa serta Koleksi Keramik Cina. Setiap tahun dilaksanakan Upacara Erau, yaitu tarian Khas Kedaton Upacara Adat dan Mengulur Naga di Desa Kutai Lama. Dimana pada setiap pelaksanaan Erau juga ditampilkan atraksi Seni Budaya baik berupa Tarian Tradisional dan Upara Adat dari berbagai Suku lainnya di Indonesia serta mancanegara.
Museum Mulawarman terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah terdapat koleksi keramik Cina. sedangkan lantai 1 berisi koleksi peninggalan bercorak kesenian. Di belakang museum, pengunjung bisa berbelanja cenderamata khas budaya Dayak, batu perhiasan, maupun cendera mata lainnya.

Bukit Biru adalah salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kelurahan ini sebelumnya adalah sebuah desa transmigrasi yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian khususnya padi sawah.

Tempat ini bisa menjadi salah satu objek wisata bagi anda, menikmati terbit dan tenggelamnya matahari. Dengan hamparan hutan hijau yang nyaman dipandang. Namun anda harus mempersiapkan stamina yang super ekstra karna untuk berada dipuncak gunung tersebut harus menaiki tanjakan yang lumayan terjal.

pulau kumala

Pulau Kumala merupakan daerah delta di Sungai Mahakam yang memanjang di sebelah Barat Kota TenggarongKabupaten Kutai Kartanegara. Dimulai pada tahun 2000, Pulau Kumala dibangun menjadi kawasan wisata. Namun sejak Bupati Syaukani Hasan Rais yang membangun pulau ini, terjegal kasus korupsi pada tahun 2006, pembangunan Pulau Kumala menjadi mangkrak.

Objek wisata Pulau Kumala yang terletak di tengah Sungai Mahakam merupakan taman rekreasi perpaduan antara teknologi modern dan budaya tradisional. Pulau seluas 76 hektare ini dulunya adalah lahan tidur dan semak belukar. Saat ini, sebagian area sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti sky tower setinggi 100 meter untuk menikmati keindahan dari udara, kereta api mini area permainan dan kereta gantung yang menghubungkan dengan daratan.

Jumat, 05 Mei 2017

Lagu Kutai Kalimantan Timur "Aku Menyanyi"





Lagu Rakyat Kalimantan Timur
Kutai Kartanegara "Aku Menyanyi"

 Nyanyian rakyat adalah karya seni yang memiliki makna tertentu yang terdapat di wilayah Nusantara, nyanyian rakyat tersebut muncul dan populer sebagai salah satu seni di berbagai suku-suku di wilayah Nusantara. Istilah seni selalu berkaitan dengan keindahan. Seni adalah penciptaan segala hal atau benda yang karena keindahan bentuknya orang senang melihat dan mendengarnya, membuat seni merupakan wujud ekspresi dari suatu ide atau gagasan.
            Melalui seni musik banyak hal yang bisa kita dapatkan mulai dari ciri khas alunan musik daerah tersebut, suasana bahkan keadaan alam yang ada di daerah itu, aktivitas masyarakat dan lain-lain. Berikut ini adalah sedikit pengetahuan saya mengenai nyanyian rakyat yang beberapa lirik di lagu tersebut sangat kental menggambarkan suasana alam nyanyian itu berasal tentunya dengan menerjemahkan beberapa lirik yang khas menggunakan bahasa Kutai “Aku Menyanyi” lagu khas Kalimantan Timur yang berasal dari suku Kutai lagu yang sangat indah dengan lirik musiknya di iringi alunan nada-nada merdu.

Aku Menyanyi
Endak endaklah mendi endaklah mendi panasnya hari
Mendi mendi dibatang mendi di batang airnya keroh
Gubang gubang tambangan gubang tambangan membawa jukut
Jukut nyaman dipanggang nyaman dipanggang gangganya terong

Lagu ini lagu mainan, lagu ini lagu sindiran
Jangan heran etam mendengar
Lagu ini lagu mainan, lagu ini lagu sindiran
Hibur hati dengar aku menyanyi

Wadakleh urang seberang urang seberang menggangan asam
Namun etam di sini etam disini manggangan kacang
Putih bunga melati bunga melati harum baunya
Setangkai  kupetik aduh sayang tinggal daunnya

Lagu ini lagu mainan, lagu ini lagu sindiran
Jangan heran etam mendengar
Lagu ini lagu mainan, lagu ini lagu sindiran
Hibur hati dengar aku menyanyi

Terjemahan:
Mau maulah mandi mau mandi panas sekali hari
mandi mandi dibatang mandi di batang airnya keruh
perahu perahu tambangan perahu tambangan membawa ikan
ikan enak dipanggang enak dipanggang sayurnya terong

ini lagu lagu mainam, ini lagu lagu sindiran
Jangan heran kita mendengar
ini lagu lagu mainan, ini lagu lagu sindiran
Hibur hati dengar aku menyanyi

aduhai orang seberang orang seberang bikin sayur asam
Namun kita di sini kita disini bikin sayur  kacang
Putih bunga melati bunga melati harum baunya
Setangkai kupetik aduh sayang tinggal daunnya
 ini lagu lagu mainan, ini lagu lagu sindiran
Jangan heran kita mendengar
ini lagu lagu mainan, ini lagu lagu sindiran
Hibur hati dengar aku menyanyi.

“Mendi-mendi di batang” jika di perhatikan dari lirik lagu ini sangatlah menggambarkan suasana di tempat tersebut. Kalimantan Timur yang kita bahas ini adalah daerah yang sumber daya alamnya sangatlah melimpah terutama hutannya, dan sungai terpanjangnya yaitu Sungai Mahakam. Lirik ini secara tidak langsung menggambarkan aktifitas dan lingkungan di daerah Kaliamntan Timur khususnya mereka yang tinggal di pesisir atau ditepi sungai Mahakam khususnya Suku Kutai. Bahari, orang-orang yang tinggal ditepi sungai Mahakam  sering bahkan sudah menjadi rutinitas mandi dipinggiran sungai Mahakam diatas batang-batang  yang menjadi pondasi belakang rumah.
            Dahulu anak-anak mereka pun mandi di pinggiran sungai berenang  sembari bermain di atas batang-batang kayu yang hanyut di sungai, dahulu pemandangan ini sangatlah mudah untuk di dapatkan namun tidak untuk zaman sekarang. Kalimantan terutama Kalimantan Timur adalah salah satu penghasil kayu terbesar di Indonesia itulah sebabnya dipinggiran sungai Mahakam sangat banyak sekali batang-batang kayu pohon hanyut bahkan menepi di pinggiran sungai, salah satu bukti bahwa Kalimantan adalah penghasil kayu terbesar di Indonesia dengan berdirinya perusahaan kayu ternama yaitu “Kalimanis” perusahaan plywood terbesar di Kalimantan itu diresmikan langsung oleh presiden  ke-2 Indonesia  yaitu Bapak Soeharto.
            Perusahaan ini diresmikan pada tanggal 01 Agustus 1977, perusahaan kayu asal Amerika yang dikenal dengan George Pasific (GP) yang kemudian diambil alih oleh regim orde baru , dan di ubah nama menjadi PT. Kalimanis.

            “Gubang gubang tambangan” dialiri sungai yang sangat panjang orang dahulu menggunakan perahu dalam aktivitas kesehariannya disungai Mahakam, mulai untuk mencari ikan, alat transportasi untuk menyeberangi sungai dan lain-lain. Sebagai alat untuk menahan perahu pada saat menepi di pinggiran sungai di gunakan tali yang lumayan besar ukurannya biasa disebut tali tambang, sepintas menurut saya itulah asal mula dari nama perahu atau alat transportasi sungai Mahakam yang hingga kini kami kenal dengan sebutan Tambangan. Seiring perkembangan zaman alat transportasi ini semakin berkurang peminatnya bahkan banyak penduduk sekitar yang dahulu menjadikan tambangan ini sebagai mata pencaharian beralih ke pekerjaan lain karena beberapa faktor. Antara lain: berkurangnya masyarakat yang ingin menggunakannya, pembangunan jalan darat yang semakin lama semakin berkembang di dukung dengan adanya transportasi darat yang seiring waktu makin banyak bermunculan dan semakin mahalnya bahan bakar minyak yang digunakan untuk mesin tambangan.
            “Gubang tambangan membawa jukut” kita medapatkan setidaknya sedikit gambaran di zaman bahari masyarakat Kalimantan Timur terutama yang tinggal di pesisir sungai Mahakam  sering melaukan berbagai aktivitas di sungai, mulai dari menangkap ikan untuk kebutuhan sehari-hari atau untuk kebutuhan ekonomi. Semakin kuat dugaan saya bahwa lagu ini di ciptakan oleh masyarakat Kalimantan Timur yang bermukim atau tinggal di pesisir sungai Mahakam. Karena dari beberapa lirik menggambarkan bahkan bisa dikaitkan dengan sungai mulai dari jukut (ikan), tambangan (perahu),  air keroh (air yang keruh), mendi (mandi) di batang, dan urang seberang (orang seberang) yang menunjukkan jarak wilayah yang dibatasi oleh sungai karna besebrangan dan dipisahkan oleh sungai Mahakam.
            Jika mendengar lagu ini sungguh hanya ada rasa riang gembira dalam alunan nada lirik lagunya seperti orang yang sedang menghibur diri dengan menyanyi sembari melihat aktivitas-aktivitas di pesisir sungai menikmati alam sekitar alam warga pesisir sungai Mahakam.





 Referensi:

Margono Try Edi, Aziz Abdul. 2010. Mari Belajar Seni Rupa. Jakarta: Pusat Perbukuan.

Selasa, 25 April 2017

PENGADILAN PUISI OLEH PAMUSUK ENESTE



                                 
                                                     PENGADILAN PUISI
                                                             OLEH PAMUSUK ENESTE


pengadilan puisi adalah suatu perbincangan tentang karya sastra(puisi) Indonesia yang di bahas dengan agak lebih santi, penuh lelucon namun serius. Pengadilan pusi ini di bentuk karena kemajemuan penyelenggara kegiatan sastra, yang monoton dari bentuk seminar, simposium, dan diskusi panel.
 Pengadilan puisi diselenggarakan oleh Yayasan Arena dan diadakan di Aula Universitas Patahyangan, Bandung, 8 September 1974 dan diikuti oleh sejumlah pengarang di Indonesia. Dalam acara ini Slamet Kirnanto yang bertindak sebagai “Jaksa” membicarakan “tuntutan” nya yang berjudul “Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-akhir Ini Tidak sehat, Tidak Jelas Dan Berengsek!”
Menurut Sapardi Djoko Damono, gagasan asli Pengadilan Puisi datang dari Darmanto pada tahun 1970 dan dimaksudkan sebagai badutan. Pada tahun 1972, Darmanto mengumumkan gagasannya itu dalam karangan yang berjudul “Tentang Pengadilan Puisi”  di sebuah harian Jakarta. Dan pada tahun 1974 ggasan itu bisa diwujudkan  di Bandung, dalam Pengadilan Puisi ini Damanto bertindak sebagai “Hakim Anggota”.
Hadirnya Pengadilan Puisi ini adalah salah satu dari ketidakpuasan terhadap kehidupan puisi Indonesia pada saat itu, yang menyangkut: 1. Sistem penilaian terhadap puisi Indonesia, 2. Kritikus sasatra Indonesia, 3. Media yang memuat karya Sastra Indonesia, dan 4. Beberapa penyair Indonesia yang dianggap “mapan”.
Mereka yang banyak disebut-sebut dalam Pengadilan puisi di Bandung. Karena, dianggap “Bertanggung Jawab” terhadap kehidupan puisi Indonesia sengaja diundang  untuk berbicara dalam Jawaban Atas Pengadilan Puisi yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Indonesia Universitas Indonesia di Teater Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta, 21 September 1974. Sebuah acara kelanjutan dari Pengadilan Puisi di Bandung. Dalam acara ini, H. B. Jassin, M.S. Hutagalung, Goenawan Mohammad,  dan Sapardi Djoko Darmono “menjawab” tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Slamet Kirnanto kepada mereka.
Dengan dibukukannya bahan-bahan mengenai Pengadilan Puisi dab Jawaban atas Pengadilan Puisi, paling sedikit kita memperoleh dua keuntungan. Pertama, terisilah sudah salah satu tempat yang selama ini  lowong dalam sejarah Indonesia dengan adanya buku ini, kita tidak perlu lagi kehilangan jejak. Kedua, mereka inginmengetahui seluk-beluk peristiwa tahun 1974 itu tidak perlu lagi bursusah payah mencari bahan ke sana kemari
Pada pertengahan Agustus 1974, melalui Sutardji Calzoum Bahri, Taufik Ismail menerima undangan dari Ketua Yayasan Arena Djen Amar S.H., untuk membaca sajak di Bandung dan mengikuti suatu kegiatan sastra, 8 September 1974. Dalam interlokal itu Sutardji menyebut-menyebut tentang bentuk “Pengadilan Puisi” tapi tidak jelas bagaimana itu.
Harian Kompas 4 September 1974 menyiarkan acara baca puisi di Bandung, yang di kabarkan akan disertai penyair-penyair Bandung (Wing Kardjo, Sanenot Yuliman, Saini K.M., Sutardji) dan luar kota, yaitu Muhammad Ali  (Surabaya), Darmanto Jr (Semarang), Umbu Landu Paranggai (Yogyakarta), Taufik Ismail dan Slamet Kirnanto (Jakarta). “Selama pembacaan puisi juga akan diadakan Pengadilan Puisi” tulis Kompas. “Yaitu penilaian terhadap puisi Indonesia modern, yang ditulis oleh penyair-penyair kita.” Acara ini terbuka untuk umum.
Dua jam sebelum acara dimulai, penyelenggara Djen Amar dan Sanento Yuliman menjelaskan apa yang dimaksud Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir itu. rupanya kawan-kawan di Bandung ingin mencari suatu bentuk lain dalam membicarakan kesusastraan, dalam hal puisi. Bentuk seminar symposium, diskusi panel dianggap terlau majemuk. Bagaimana kalau dicari suatu bentuk yang tidak majemuk lucu tapi bersungguh-sungguh. Menurut gagasan Darmanto, bentuk peradilan bisa memenuhi persyaratan.
Slamet Kirnanto dijadikan jaksa. Majelis hakim terdiri dari dua orang, yaitu Hakim Ketua Sanento Yuliman, didamping Hakim Darmanto Jt. Para hakim sudah duduk  (meja mereka ditutupi beledu hijau tapi tidak ada palu sidang, jadi pakai batu dibungkus Koran), dihadiri 200 orang di Aula Universitas Parahyangan.
Slamet Kirnanto membacakan tuntuttannya, yang diluar dugaaan “Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-akahir Ini Tidak Sehat, Tidak Jelas Dan Berengsek!”
Dakwaan itu merupakan sebuah kejengkelan terhadap keberadaan kritik puisi, terhadap kritikus M.S. Hutagalung dan H.B. Jassin, terhadap penjagoan Subagio Sastrowardoyo oleh MSH serta penjagoan W.S. Rendra oleh HBJ, karena tidak dibicarakannnya Sutardji Calzoum Bahri dan Darmanto Jt yang dianggap membawa “gejala pembaharuan” oleh MSH dan HBJ, dan juga Horison yang “tidak mampu lagi menjalankan peranan penuh tanggung jawab”, “terjerumus menjadi majalah keluarga”, tempat tumbuh suburnya para epigon-epigon seperti Abdul Hadi.
Tuntutan berbunnyilah pertama, para kritikus yang tidak mampu lagi mengiuti perkembangan puisi mutakhir, khususnya HBJ dan MSH, harus “dipensiunkan” dari pernan yang pernah mereka miliki. Kedua, majalah sastra, khususnya Horison. Ketiga, para penyair mapan seperti Subagio, Rendra, Goenawan dan sebangsanya dilarang menulis puisi dan para epigonnya harus dikenakan hokum pembuangan, keempat dan terakhir, horizon dan Budaya Jaya harus dicabut STI nya dan yang sydah terbit selama ini dinyatakan tidak berlaku. Ini semua didasarkan atas “Kitab Undang-undang Hukum Puisi”.
Saksi ada dua macam, yang memberatkan dan yang meringankan tuduhan terhadap pesakitan golongan partama adalah Sutardji, Sudes Sudyanto, Abdul Hadi dan Pamusuk Eneste, kemudian golongan kedua, Saini K.M., Wing Kardjo, Adri Darmadji dan Yudhistira Ardi Nugroho.
Sutardji memberikan kesaksian, bahkan dia akan mengadakan acara pembakaran Horison majalah “diktator” ini. Sebagai kuicng lucu juga pertunjukan kesaksiannya. Abdul Hadi, yang menurut surat kabar Bandung akan menyerang Goenawan (menurut jaksa Slamet Kirnanto berita itu dibuat hadi sendiri), ternyata tidak melakukannya. Menurut Hadi sastra Indonesia buruk, belum sebagus sastra Jawa Kuno. Dia menganjurkan agar orang-orang baca sastra Jawa Kuno. Sides beranggapan bahwa sesudah Chairil tidak ada puisi ditulis lagi di Indonesia. Atas pertanyaan pembela mengenai apa yang dinamakan “siatusi berengsek dan tidak jelas” dalam persajkan dewasa ini. Adri dan Yudhistira berpendapat bahwa “puisi Indonesia baik-baik dan sehat-sehat saja badannya”.
Hakim darmanto menolaksemua tuntutan jaksa pertama, para kritikus sastra tetap di izinkan untuk menulis dan mengembangkan eksistensinya. Dengan catatan harus segera mengikuti kursus penaikan mutu dalam sekolah kritikus sastra, yang akan segera didirikan.
Kedua, para redaktur horizon tetap diizinkan terus memegang jabatan mereka selama mereka tidak merasa malu dan bila ingin mereka boleh mengundurkan diri dengan sendirinya.
Ketiga, para penyair mapan diizinkan masih diberi peluang untuk berkembang terus. Begitu juga dengan para penyair epigon boleh menulis terus dengan keharusan segera masuk Panti Asuhan atau Rumah Sakit Perawatan Epigon.
Keempat, majalah sastra Horison tidak perlu dcabut surat izin terbitnya, hanya dibelakang nama harus disertakan kata “Baru” sehingga menjadi Horison Baru masyarakat luas tetap boleh membaca sastra dn membaca puisi. Demikian keputusan Majelis Hakim.
Slamet Kirnanto menyampaikan semakin tidak sehatnya kehidupan sastra Indonesia khususnya kehidupan puisi Indonesia yang menurut pengamatannya puisi Indonesia mengalamu polusi bahkan manupilasi-manipulasi sehingga mengakibatkan tidak sehatnya puisi Indonesia, tidak jelas dan ujung-ujungnya menjadi brengsek.
Harry Aveling menyatakan bahwa Darmanto dan Sutardji Calzoum Bachri memang tidak memuaskan lapisan para pembaca sastra Indonesia. Keduanya menentang cara dan pokok menulis yang sudah biasa bagi penulis Indonesia. Dan kedua-duanya sedang menolong mancarika jalan baru, jalan ke bawah sadar, yang mempercayai kekuatan perkataan dan keindahan manusia hancur. Manusia yang hidup dengan syahwatnya, kesengsaraannya, kematiannya, yang percaya manusia sendiri adalah Tuhan.
Terjadi perdebatan antara H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung yang dimana masing-masing dari mereka saling bersaing argumen bahwa penyair pilihan mereka adalah penyair yang terbaik pada saat itu. Jassin dengan W.S. Rendra sedangkan M.S. Hutagalung dengan Subagio Sastrowardoyo,.
Hutagalung berpendapat bahwa Subagio mempunyai tema lebihbkaya dengan kehidupan masa kini, kata Hutagalung, Subagio mengalami perkambangan yang mantap terlihat dalam terlihat dala kumpulan sajaknya Simphony, Daerah Perbatasan, dan Salju. Bagi Hutagalung sajak-sajak dari Subagio sangat mengasyikkan, mengagetkan, rumit dan selalu merangsang kita untuk lebih memahami.
Dalam kesempatan itu H.B. Jassin menolak keputusan anak didiknya itu, menurutnya penyair yg terkemuka dan paling keren di masa itu adalah W.S. Rendra. Dengan alasan bahwa Rendra berhasil menggunakan gagasan yang dalam, likuk-likuk kejiwaanya yang sulit diraba dan pikiran-pikiran yang tinggi dengan kata-kata sederhana dari kehidupan sehari-hari dan imaji-imaji yang kongkret. Jassin menjatuhkan penilainnya “sedangkan kalau say abaca sajak-sajak penyair lain , seperti Goenawan dan lain-lain saya selalu bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan kata-kata atau pelukisan abstrak itu”.
Keduanya semakin ngotot dalam perdebatan dengan mempertahankan jagoan mereka masing-masing. Hutagalung mengemukakan keberatannya  tentang sajak-sajak Rendra, baginya sajak-sajak Rendra sering tergelincir dalam permainan kata yang terlalu manis dan bombastis, penggunan kata terlalu banyak sehingga tidak subtil, dalam sajaknya pula terlalu banyak klise-klise dari Bibel. Kedua hal tersebut dilihatnya dalam sajak Masmur Mawar dan Sajak-sajak Sepatu Tua.
Lalu beredar isu bahwa H.B. Jassin sedang mengumpulkan karya-karya dan informasi tentang Rendra dan ingin membuktikan bahwa Rendra adalah penyair terbesar saat itu.
Melihat hal ini Slamet Kirnanto pun mulai anggkat bicara, menurut Slamet “apakah pendapat mereka berdua sudah berdasarkan penelitian yang mendalam atas karya-karya sastra(puisi) yang ada sekarang atau hanya sekedar pikiran-pikiran ngaco saja, setelah kedua kritikus itu absen (Hutagalung-Jassin) ke negeri Belanda. Apakah kita harus menerima begitu saja ucapan mereka berdua karena lahir dari ucapan seorang sarjana?  Apakah mereka pada tahun-tahun terakhir ini sudah mengadakan penelitian secara menyeluruh atas karya-karya yang makin tersebar luas?”
“Mungkin Hutagalung hanya tergoda dengan tingkat intelektualitas yang dimiliki Subagio yang terbyang dalam sajak-sajaknya atau alasan sandaran-sandaran puisi yang sering dikemukkan penyairnya.” Sedangkan H.B. Jassin hanya tergoda oleh popularitas Rendra saja. Ujar Slamet Kirnanto.
Popo Iskandar , seorang pelukis senior , dosen IKIP Bandung, dan salah seorang anggota Akademi Jakarta perlu ikut berbincang tentang sajak-sajak Sutardji, setelah kemunculan penyair ini di Taman Ismail Marzuki dalam rangka pembacaan sajak-sajak menimbulkan polemik di kalangan luas, ia menyatakan “Sutardji merupakan pembaharuan dalam dunia puisi Indonesia dan sekaligus merupakan penyair bersama Rendra dan Taufik Ismail merupakan tokoh penyair Indonesia sekarang ini. Walaupun dirinya tidak bisa menjadi yang paling besar diantara ketiga ini”.
 Bagaimanapun juga, mesdkipun sastra kita cukup dewasa untuk dinilai, diuji ataupun dicurigai namun, cara-cara yang dilakukan oleh Hutagalung dan Jassin dalam debat penyair nomer wahid itu menunjukkan mandeknya pemikiran dalam mengikuti perkembangan kehidupan puisi Indonesia mutakhir. Tugas penyair adalah mencipta. Hanya dengan mencipta teru-menerus penyair akan menemukan dirinya. Tapi, penyair menulis puisi bukan hanya sekedar menulis lalu dimasukkan kedalam mapnya. Mereka menulis karna hasrat ingin berkomunikasi, dimana peran publik peminat sangat besar artinya.
Kalau demikian halnya nampak sekali bahwa kehidupan kepenulisan puisi tidak sekedar menulis dan menulis. Memperdalam tingkat kedewasaan dan kesenimanannya, orang dipaksa menggelarka semacam papan catur untuk meneguhkan mazhab, jalur, kepopuleran dan lain-lain. Dalam hal demikian pastilah kita kehilangan kewajaran dan objektivitas penciptaan. Orang dengan mudah bermanipulasi, megatasnamakan penyair termuka di Indonesia.
Gejala demikian jug nampak pada satu-satunya media sastra yang disebut Horison dan Budaya Jaya . tidak mampu lagi menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, nama Horison yang pada awalnya menunjukkan suatu janji memberikan prasarana terbaik unruk tumbuhnya karya-karya sastra yang kreatif dan sehat, tiba-tiba terjerumus tiba-tiba terjerumus menjadi majalah keluarga. Menjadikan isi majalah menjadi selera mereka. Tanpa member kesempatan pada penyair-penyair lainnya.
Hal ini mengakibatkan banyaknya penyair-penyair epigon dimana mereka mengikuti gaya-gaya penulis lainnya tanpa mengutamakan cirri khas mereka sendiri tentu hal ini mengundang penciptaan situsi yang tidak sehat, adapun bahaya epigon sejak tulisan Subgio Sastrowardoyo “Situasi Sastra Puisi  Sesudah Tahun 45” pada saat itu banyak epigon-epigon bermuncul dengan meniruka gaya penulisan dari beberapa peyair yaitu Chairil, Sitor, Toto Sudarto dan Rendra hal ini dapat mengahambat perkembangan kreativitas.
Seorang sastrawan muda “Kentut” mengatakan Rendra atau Goenawan dan Taufik lebih dihebohkan atau di utamakan dari pada timbulnya gejala-gejala baru dalam karya sastra (puisi)  yang mungkin belum cukup dikenal oleh masyarakat umum. Dan hal seperti ini memungkinkan terhambatnya proses perkembangan sastra(puisi) modern.
Gejala kretivitas yang nampak pada  sardono dalam tari dan teater, Danarto dalam cerpen dan seni lukis, Putu Wijaya dalam roman, cerpen dan teater,. Sutardji dan Darmanto Jt dalam puisi mereka menghancurkan sekalian yang disebut poal lama  dan mampu menimbulkan respektif ke depan dalam ciptaanya. Sardono menggali Jawa Bali, Putu menggali elemen teater Bali dan teater rakyat pada umumnya, Darmanto mencoba menangkap roh dibalik kebekuan alam budaya Jawa, Danarto  menumbuhkan sikap rohani yang murni dan batin manusia yang berhadapan dengan hakikat ketuhanan, dan Sutardji menemukan kaitannya dengan “mantera” mereka tumbuh melawan arus epigonisme.
M.S. Hutagalung “pada dasarnya Pengadilan Puisi di Bandung tidak memberikan kesan kepada saya”. Menurut Hutagalung krirtikus yang disenanmgi banyak orang ialah kritikus yang hanya menyanjung-nyanjung semua pengarang. Dan ia bukanlah kritikus seperti itu seperti katanya dalam kutipan beriku”Dan syukurlah, saya belum masuk kritikus yang di senangi oleh banyak orang”.
M.S. Hutagalung sebenarnya sudah lama sering mengemukakan mengenai sajak-sajak Sutardji yang menurutnya sudah sangan bau apak, dalam hal ini Hutagalung bukan menghina beliau mengatakan bau apak karna kelambatan kritikus untuk membicarakan Sutardji.
Hutagalung berpendapat bahwa Sutardji lah yg sebenarnya adalah seorang epigon, “kalau Sutardji sempat melihat sajak-sajak kumpulan belanda ketika berada di Rotterdam, ia akan heran betapa melimpahnya dan betapa inflasinya pembuatan sajak-sajak seperti di lakukannya. Sajak-sajak Belanda jauh lebih gila lagi”. Sajak-sajak Sutardji sebenarnya bukanlah mode pembaharuan bagi Huatgalung, karna sajak-sajak itu menjadi mode sekarang tidak hanya di Belanda, tetapi diseluruh dunia.
 Ia mengemukakan bahwa H.B. Jassin tidak naik pitam, karna ia sangat mengenal Jassin sebagai sosok kritikus yang sangat toleran terhadap pendapat orang lain. Hutagalung sangat setuju dengan pendapat Cassirer bahwa seni bukanlah permainan. Seni adalah kesungguhan dan kedewasaan, dan itulah yang membedakannya dari permainan anak-anak. Sajak main-main dan aneh mungkin menarik perhatian, tetapi hanya untuk sementara  ia tidak akan langgeng. Seni main-main hanya mungkin menjadi seni pop, tidak mungkin menjadi seni abadi.